Dosen UNTIRTA Banten Kembangkan Model  Rekruitmen Guru Produktif SMK Kemaritiman

Berdasarkan data Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Indonesia dari sisi industri pelayaran membutuhkan 7 ribu orang per tahun, dan baru terpenuhi 21 % atau sekitar 1.500 orang. Dari sisi kepelabuhan Indonesia memerlukan SDM 6.630 orang dan 2.155 orang untuk pelabuhan umum dan terminal khusus. Sementara itu, data dari Badan Pengembangan SDM Perhubungan menyebutkan, kebutuhan pelaut dalam negeri mencapai 16 ribu orang dan kebutuhan luar negeri sebanyak 88.552 orang. Ini membuktikan kebutuhan tenaga kerja bidang kemaritiman sangat banyak dan masih kekurangan dalam memenuhi pasokan pasar tenaga kerja. Kebutuhan sumber daya manusia untuk bidang kemaritiman sangat mendesak untuk dipenuhi agar program-program yang sudah direncanakan pemerintah dapat berjalan dengan semestinya. Salah satu sumber pemenuhan kebutuhan tenaga kerja tersebut dipasok dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yaitu lulusan SMK bidang kemaritiman yang meliputi pelayaran, perkapalan, perikanan maupun pengolahan hasil perikanan. Namun demikian, SMK Kemaritiman di Indonesia belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di bidang kemaritiman tersebut. Disisi lain, SMK yang ada memiliki beberapa permasalahan, diantaranya adalah kurangnya Guru produktif.
Indonesia saat ini membutuhkan 94.553 Guru produktif untuk ditempatkan di 14.327 SMK yang tersebar di seluruh Indonesia. Guru produktif yang ada saat ini hanyalah 52.692 orang atau 55,7% sehingga kekurangan Guru produktif mencapai 41.861 orang atau 44,3%. Untuk memenuhi kekurangan tersebut, Pemerintah telah melakukan berbagai daya upaya seperti merekrut dari lulusan LPTK, alih fungsi Guru, dan berbagai kolaborasi dengan beberapa instansi. Namun demikian, usaha Pemerintah tersebut masih belum bisa memenuhi kekurangan Guru produktif yang dimaksud. Hal ini mendorong Siswo Wardoyo, Dosen Untirta Banten, untuk melakukan pengembangan model rekruitmen Guru produktif SMK kemaritiman yang layak, efektif, dan praktis untuk diimplementasikan. Dorongan ini didasarkan pada hasil preliminary research nya yang menyimpulkan pemenuhan kekurangan Guru produktif SMK kemaritiman tidak mungkin dipenuhi dengan cara normal menunggu lulusan LPTK, alih fungsi maupun kolaborasi. Disisi lain, hasil preliminary research nya juga menunjukkan kesenjangan kesejahteraan antara Guru SMK Negeri dan Guru SMK Swasta. Hal ini bisa terjadi karena di SMK Negeri rekruitmennya berdasarkan ijazah S1, sedangkan di swasta berdasarkan pengalaman nyata (berlayar), sehingga di SMK swasta tidak bisa mengikuti program sertifikasi Guru.
Model rekruitmen yang dikembangkan oleh Siswo Wardoyo adalah khusus untuk merekrut Guru produktif SMK kemaritiman Teknika Kapal Niaga yang berstandar Internasional. Standar yang digunakan pada model rekruitmen yang dikembangkan adalah konvensi Internasional yaitu International Convention on Standards of Training, Certi?cation and Watchkeeping for Seafarers 1978 (STCW78) yang sudah direvisi di Manila, Filipina pada tahun 2010 menjadi STCW 2010 dimana pelaksanaannya diawasi oleh International Maritime Organization (IMO) atau organisasi maritim Dunia. Untuk di Indonesia diawasi oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Dirjen Hubla) Kementerian Perhubungan Republik Indonesia sebagai kepanjangan tangan dari IMO. Ketentuan pelaksanaannya diatur dalam IMO Model Course 7.03 yang tertuang dalam Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Laut (Perdirjenhubla) No.HK.103/I/18/DJPL-16.
Siswo Wardoyo dalam memberikan terobosan baru yaitu melakukan pengembangan model rekruitmen Guru produktif SMK kemaritiman dengan menggunakan basis recognition of experiential and prior learning yang dimiliki praktisi kemaritiman. Model rekruitmen yang diusulkan Siswo Wardoyo telah diuji coba oleh ahli bidang kemaritiman dari Sekolah Tinggi Maritim Yogyakarta, ahli rekruitmen Guru dari SMK Putra Samodera Yogyakarta, ahli Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (PTK) dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), maupun ahli pengembangan vokasional dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang menghasilkan derajat konsensus rerata dari ahli sebesar 90% sehingga dapat dikategorikan sangat layak untuk diimplementasikan. Model rekruitmen yang dihasilkan memiliki tingkat keterlaksanaan yang sangat baik, hal tersebut didasarkan pada aspek penilaian kelayakan, kepraktisan, dan keefektifan model rekruitmen menurut versi pelaksana rekruitmen di lapangan yaitu Penerima Pendaftaran, Calon Guru, dan Assessor. Tingkat keterlaksanaan yang diberikan oleh para responden dilakukan melalui pengisian angket yang dibagikan oleh peneliti, selanjutnya dianalisis secara statistik yang memperoleh rerata 89% responden menyatakan model yang dikembangkan beserta perangkat pendukungnya layak, praktis, dan efektif untuk diimplementasikan.
Mencermati hasil pengembangan model rekruitmen beserta perangkat pendukungnya yang sudah siap untuk diimplementasikan, maka sudah saatnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mulai menggunakan model rekuruitmen berbasis pengalaman kerja dan belajar lampau (recognition of experiential and prior learning) untuk memenuhi kekurangan Guru produktif SMK di Indonesia. Model rekruitmen ini akan menghasilkan Guru produktif SMK yang memiliki pengalaman nyata di lapangan dan benar-benar memiliki kompetensi profesional yang dibutuhkan. Pada level kebijakan, Siswo Wardoyo mengusulkan, agar Kemdikbud RI menyetarakan Guru-Guru hasil rekruitmen yang dihasilkan menggunakan model yang dikembangkan ini dengan sarjana Strata 1 (S1), sehingga Guru yang mengikuti program rekruitmen ini dan dinyatakan LULUS, maka berhak mengikuti proses sertifikasi Guru sebagaimana yang diikuti oleh Guru yang bergelar sarjana. Hal ini akan memberikan rasa keadilan terhadap Guru produktif yang bersumber dari praktisi, dimana memiliki kompetensi nyata yang sangat dibutuhkan di SMK.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *